Hakikat Kecantikan dan Ketampanan

izzudien al qosam

Makan dan minum secukupnya

Agar cantik dan tampan, akhwat dan ikhwan tidak boleh makan seenaknya/sesukanya dengan penuh kerakusan, tapi makan sebatas dapat menegakkan tulang-tulangnya untuk mendapatkan tenaga dalam menjalankan aktifitas sehari-hari dengan baik.

Ingatlah firman Allah swt.: “…makan dan minumlah, janganlah berlebih-lebihan/melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al A’raaf 7: 31). Kemudian dalam sebuah hadits diterangkan: “Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi saw. sabdanya: “Orang-orang kafir makan dengan tujuh perut, dan orang mukmin makan dengan sebuah perut.” (H.R. Muslim).

Rasulullah saw. menghindari makan dan minum berlebih-lebihan. Beliau makan dan minum hanya pada saat perut terasa lapar dan mengisi perut dalam tiga bagian, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernafas. Akibat banyak makan biasanya mudah obesitas, mudah terkena penyakit, cenderung malas ibadah, malas bekerja. dll. Read more »

TANGISAN BILAL BIN RABAH -Radhiallaahu ‘Anhu, MUAZIN RASULULLAH -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam

Jika nama Abu Bakar disebut, Al-Faruq Umar bin al-Khaththab -Radhiallaahu ‘Anhu berkata, “Abu Bakar adalah tuan kami, dan dia membebaskan tuan kami.” Yakni Bilal. Orang yang disebut Umar sebagai “tuan kami” adalah benar-benar orang yang mulia dan mempunyai kedudukan yang agung.

Ia adalah mu’adzin Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam. Ia adalah hamba yang disiksa oleh tuannya dengan batu yang telah dipanaskan un-tuk memurtadkannya dari agamanya, tapi ia berkata, “Ahad, Ahad (Allah Yang Esa).”

Ia hidup sebagai hamba sahaya, hari-harinya berlalu tanpa beda dan buruk. Ia tidak punya hak pada hari ini, dan tidak punya harapan pada esok hari. Seringkali ia mendengar tuan-nya, Umayyah, berbicara bersama kawan-kawannya pada suatu waktu dan para anggota kabilah di waktu lain tentang Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, dengan pembicaraan yang meluapkan amarah dan ke-dengkian yang sangat.

Pada suatu hari Bilal bin Rabah mengetahui cahaya Allah, lalu ia pergi menemui Rasulullah a dan mengikrarkan keisla-mannya. Setelah itu ia menghadapi berbagai macam penyiksaan, tapi ia tetap tegar bagai gunung. Ia diletakkan dalam keadaan telanjang di atas bara api. Mereka membawanya keluar pada siang hari ke padang pasir, dan mencampakkannya di atas pasir-pasir yang panas dalam keadaan tak berbaju. Kemudian mereka membawa batu yang telah dipanaskan yang diangkut dari tem-patnya oleh sejumlah orang dan meletakkannya di atas tubuh dan dadanya. Siksa demi siksa berulang-ulang setiap hari, tapi ia tetap tegar. Hati sebagian penyiksanya menjadi lunak seraya berkata, “Sebutlah Lata dan Uzza dengan baik.” Mereka me-nyuruhnya supaya memohon kepadanya tapi Bilal menolak untuk mengucapkannya, dan sebagai gantinya ia mengucapkan senandung abadinya, “Ahad, Ahad“.

Abu Bakar ash-Shiddiq -Radhiallaahu ‘Anhu datang pada saat mereka menyiksanya, dan meneriaki mereka dengan ucapan, “Apakah kalian membunuh seseorang karena berucap, ‘Rabbku adalah Allah?’.” Abu Bakar meminta kepada mereka untuk menjualnya kepadanya. Umayyah memang berkeinginan untuk menjualnya. Akhirnya Abu Bakar rhu membelinya dengan harga yang berlipat ganda dari Umayyah. Setelah itu dia membebaskannya, dan Bilal mulai menjalani kehidupannya di tengah-tengah orang-orang mer-deka… para sahabat yang taat lagi berbakti. Ketika Abu Bakar memegang tangan Bilal untuk membawanya, maka Umayyah berkata kepadanya, “Ambillah! Demi Lata dan Uzza, seandainya kamu menolak kecuali membelinya dengan satu uqiyah, niscaya aku menjualnya kepadamu dengan harga itu.” Abu Bakar rhu menjawab, “Demi Allah, seandainya kamu menolak kecuali seharga seratus uqiyah, niscaya aku membayarnya.”

Setelah Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam hijrah ke Madinah, Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam me-nyariatkan adzan untuk shalat, dan pilihan jatuh pada Bilal sebagai mu’adzin pertama untuk shalat. Ini pilihan Rasulullah saw. Bilal pun melantunkan suaranya yang menyejukkan dan menggembirakan, yang memenuhi hati dengan iman, dan pendengaran dengan keindahan. Ia menyeru, “Allahu Akbar, Allahu Akbar” dan seterusnya. Ketika datang perang Badar, dan Allah menyampaikan urusannya, Umayyah keluar untuk berperang… Dan ia jatuh tersungkur dalam keadaan mati di tangan Bilal -Radhiallaahu ‘Anhu.

Pemimpin kekafiran mati tertusuk oleh pedang-pedang Islam sebagai balasan buat Bilal yang berteriak setelah terbunuh-nya, “Ahad, Ahad.” Hari-hari berlalu, Makkah ditaklukkan, dan Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam masuk Makkah dengan ditemani Bilal. Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah sirna. Bilal mengikuti semua peperangan bersama Rasul -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dan mengumandangkan adzan untuk shalat. Ia terus menjaga syiar agama yang agung ini. Sampai-sampai Rasul -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menyifatinya sebagai “seorang pria ahli surga”. Dan Rasul -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam berpulang ke haribaan Allah dalam keadaan ridha lagi diridhai. Sepeninggal beliau, sahabatnya dan khalifahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq -Radhiallaahu ‘Anhu bangkit memimpin urusan kaum muslimin. Bilal pergi menemui ash-Shiddiq seraya berkata kepadanya, “Wahai Khalifah Rasulullah, aku mendengar Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda,

‘Amalan mukmin yang paling utama ialah berjihad di jalan Allah’.”*

Abu Bakar bertanya kepadanya, “Apakah yang engkau kehendaki, wahai Bilal?” Ia menjawab, “Aku ingin murabathah (siap siaga berperang) di jalan Allah hingga aku mati.” Abu Bakar bertanya, “Lantas siapa yang mengumandangkan adzan untuk kami?!”

Bilal berkata, sementara kedua matanya mengalirkan air mata, “Sesungguhnya aku tidak mengumandangkan adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam .” Abu Bakar berkata, “Tetaplah mengumandangkan adzan untuk kami, wahai Bilal.” Bilal berkata, “Jika engkau memerdekakan aku agar aku menjadi milikmu, lakukan apa yang engkau suka. Jika engkau memerdekakan aku karena Allah, biarkanlah aku berikut pembebasan yang kau berikan kepadaku.” Abu Bakar berkata, “Aku memerdekakanmu karena Allah, ya Bilal.”

Bilal kemudian melakukan perjalanan ke Syam yang di sana ia terus menjadi mujahid dan selalu siap sedia untuk berjihad. Konon, ia berkali-kali datang ke Madinah dari waktu ke waktu … tapi ia tidak mampu mengumandangkan adzan. Hal itu karena setiap kali hendak mengucapkan, “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah), kenangan-kenangan masa lalu menahan dirinya, lalu suaranya tersembunyi di kerongkongannya, dan sebagai gantinya air matanyalah yang meneriakkan kata-kata itu.**

Akhir adzan yang dikumandangkannya ialah pada saat Khalifah al-Faruq Umar bin al-Khaththab -Radhiallaahu ‘Anhu mengunjungi Syam. Kaum muslimin meminta Khalifah membawa Bilal agar mengumandangkan adzan untuk shalat mereka. Amirul Mu’minin memanggil Bilal, sementara waktu shalat telah tiba. Umar berharap kepadanya agar mengumandangkan adzan untuk shalat. Bilal pun naik dan mengumandangkan adzan… maka menangislah para sahabat yang pernah bersama Rasulullah saw ketika Bilal mengumandangkan adzan untuk beliau. Mereka menangis seakan-akan mereka tidak pernah menangis sebelumnya, selamanya.

Bilal meninggal di Syam dalam keadaan bersiap siaga di jalan Allah, sebagaimana yang dikehendakinya. Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha kepadaNya.

CATATAN KAKI:

* Lihat, Thabaqat Ibn Sa’d, 3/ 168

** Rijal Haula ar-Rasul a, 62-70 dengan sedikit perubahan (alsofwah).

Krisis Ruhiyah (spiritual)

Ruhiyah (spritual) bagi aktivis dakwah ibarat jantung bagi manusia. Bila jatungnya sehat, maka sehat pula semua anggota tubuhnya. Namun, bila jantungnya rusak dan sakit, maka rusak dan sakit pula seluruh tubuhnya. Oleh sebab itu, krisi ruhiyyah tidak boleh dianggap spele, karena mengakibatkan bencana besar bagi pengidapnya. Apalagi jika yang mengidap krisis ruhiyah tersebut adalah para pemimpin dan tokoh dakwah, maka musibahnya akan lebih besar lagi terhadap jama’ah yang dipimpinnya serta masyarakat luas.

Tidak sedikit aktivis Gerakan Dakwah hari ini kehilangan ruhyah, kecuali yang mendapat rahmat dari Allah. Akibantnya, hatipun menjadi keras seperti, tidak mau menerima nasehat dan peringatan kendati dari sesama aktivis dakwah, berlebihan menggunakan akal dan tidak mau tunduk pada nushush syar’iyyah (dalil-dalin syar’i) dalam menghadapi berbagai persoalan dan realitas kehidupan dengan dalih ilmiyah, tafsir sosial, fiqhuddakwah dan sebagainya yang salah menggunakannya. Padahal tidak akan ada pertentangan antara ilmiyah, tafsir sosial dan fiqhuddakwah dengan fiqihusy-syari’ah. Sebab, fiqhuddakwah itu dirumuskan oleh para ulama sebagai metodologi untuk menegakkan syaria’ah. Ia harus tunduk pada nilai-nilai syar’i. Kalau metodologinya menyimpang, bagaimana mungkin syaria’h itu bisa tegak? Kalaupun tegak, pasti syari’ah yang compang camping seperti yang terjadi pada kaum Ahlul Kitab. Akhirnya, masyarakat tidak dapat melihat gambaran syaria’h yang orisinil.

Fenomena lain yang muncul dalam kehidupan berjama’ah sebagai akibat krisis ruhiyah adalah kegersangan jiwa, kekerasan hati dan kekeringan mu’amalah, sehingga ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan Islam) hanya sebatas lisan dan tidak mampu direalisasikan dalam kehidupan nyata secara baik dan maksimal. Padahal, Ukhuwwah Islamiyah tersebut salah santu kunci utama kekuatan jama’ah/organisasi. Contoh persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshor hanya ibarat nasyid (lagu) yang disenandungkan untuk dinikmati lirik dan suaranya. Pada hakekatnya, masing-masing sibuk memikirkan dan mengurusi dirinya.

Anhenya pula, para pemimpinnya tidur nyenyak di atas kasur empuk dalam kamar rumah megah mereka yang full AC atau di hotel-hotel mewah sambil makan dengan makanan yang lezat penuh gizi serta citra dan rasa yang tinggi. Siang dan malam mengenderai mobil-mobil mewah dengan dalih menjaga performance (jaga imej) sebagai tokoh dakwah. Asal usul harta tidaklah jadi perkara. Padahal, dakwah sebelumnya berkembang pesat, ketika kehidupan mereka miskin dan bersahaja. Contoh kehidupan keseharian Rasul sudah jarang dibaca. Kalaupun dibaca, hanya sepotong saja dan yang terkait dengan kuda dan onta Rasul yang mahal harganya. Lalu ditafsirkan seenak perutnya.

Pada saat yang sama, mayoritas atau kebanyakan anggota jama’ahnya hidup menderita di bawah garis kemiskinan yang mendapat gelar MA (mustahiq abadi) yang berhak menerima zakat seumur hidup mereka. Lucunya, para pemimpin dan jama’ah mereka tetap saja mewajibkan infaq atau berbagai iuran wajib (melebihi dari kewajiban yang Allah tentukan) pada mereka dengan dalih jihad maali (pengorbanan harta), padahal Allah saja tidak mewajibkan kepada mereka yang lemah harta (yang berada pada garis kemiskinan apalagi di bawah garisnya) agar mengeluarkan harta untuk kepentingan apapun, karena secara faktual mereka tidak punya, atau tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka dan merekalah yang harus menerimanya.

“Dan dalam sebagian harta mereka (yang kaya) ada hak orang yang meminta dan belum beruntung” (Q.S. Az-Zariyat / 51 : 19)

Fenomena krisis spritual ini juga dapat kita saksikan di kalangan aktivis Gerakan Dakwah di negeri ini secara nyata. Sebagai contoh, sekitar empat tahun yang lalu terjadi sebuah pertemuan para aktivis Gerakan Dakwah di salah satu kota di Indonesia dengan mengangkat tema yang sangat menyedihkan sekaligus menggembirkan yakni “Mencari Ruh Yang Hilang”.

Menyedihkan karena sudah sebegitu kritisnya spritualitas kalangan aktivis Gerakan Dakwah yang jika tidak berhasil disembuhkan bisa berakibat kemunduran dakwah. Menggembirakan karenan mereka berani mengangkat tema besar dan sensitif yang mungkin bagi sebagian aktivis lainnya masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Berarti ada kesadaran yang tinggi bagi para aktivis dakwah tersebut untuk mengakui adanya krisis spritual dan kemudian berupaya mengobati dan mencarikan terapinya dengan benar. Namun amat disayangkan, upaya tersebut seakan terhempas karang karena sudah tidak lagi menjadi perhatian Gerakan Dakwah dan para pemimpinnya saat ini. Gerakana dakwah lebih berasyik maksyuk sambil bermain-main dengan politik praktis yang amat menggiurkan dan menjanjikan keuntungan duniawi yang amat besar.

Adapun cirri-ciri krisis ruhiyah (spritual) dalah :

1. Rasa malas menunaikan ibadah fardhu, khususnya sholat fardhu berjamaah di masjid dengan alasan sibuk, capek berdakwah dan berbagai alasan lain yang dicipatakan.

2. Rasa berat menunaikan iabadah-ibadah nafilah (sunnah), khsusnya qiyamullail (sholat) tahajjud, dengan alasan capek berdakwah serta berat untuk berinfaq dengan berbagai alasan seperti sudah digunakan untuk kebutuhan dakwah yang lain.

3. Terasa berat membaca dan mentadabburkan Al-Qur-an, menelaah Sunnah Nabawiyyah serta kehidupan Salafus Sholeh.

4. Tidak bisa zikrullah (berzikir pada Allah) dengan banyak. Ingat, di antara cirri-ciri kaum munafik ialah malas sholat dan tidak bisa banyak melakukan dzikrullah.

5. Lesu berdakwah jika tidak menghasilkan keuntungan duniawi. Sebaliknya, sangat bersemangat berdakwah jika secara langsung atau tidak langsung menghasilkan keuntungan duniawi.

6. Menggunakan akal dalam menghadapi berbagai masalah yang pada akhirnya terlihat mengada-ada atau memaksakan nushush syar’yah (dalil-dalil syar’i) untuk menjawab berbagai ekses yang muncul dari sikap dan tingkah laku yang salah.

 

Adapun efek negatif krisis ruhiyah (spritual) adalah :

1.   Hati keras, kendati tampilan wajah selembut salju.

2.   Ukhuwwah (persaudaraan) kering, cuek (tidak sensitif dan solideritas / kesetiakawanan tipis) dan terkadang cenderung materialistik.

3.   Tidak bisa khusyuk sholat dan beribadah lainnya, karena hati masyghul menghayalkan dunia, kendati dalam bungkusan dakwah atau agma.

4.   Tidak bisa menerima kritik dan nasehat, khususnya terkait dengan kesalahan pribadinya.

5.   Bila berselisih pendapat bisa menimbulkan dendam kesumat yang berkepanjangan, sambil berupaya membangkrutkan semua yang dianggap berlawanan / berseberangan pendapat.

6.   Bersikap nifaq (tidak berani berterus terang) dan tidak bisa mengakui kesalahan.

7.   Ujub (bangga) dengan diri dan pendapatnya, termasuk dengan kelompok dan jama’ahnya.

8.   Sombong alias tidak mau menerima kebenaran dan pendapat orang lain atau jama’ah lain selain elite jama’ah kelompoknya.

9.   Hatinya cenderung dan mudah silau terhadap kehidupan duniawi.

10. Obrolan dan cita-cita menumpuk kesenangan dunia cendrung meningkat frekuensinya, padahal mereka bukanlah para pengusaha.

11. Memanfaatkan jama’ah dan dakwah untuk meraih keuntungan duniawi.

12. Mencampur adukkan antara Al-Haq dengan Al-Bathil (split personality), seperti rajin beribadah dan berzikir, tapi rajin juga memanfaatkan dakwah untuk kepentingan duniawi, memakan harta yang diperoleh bukan dengan jalan yang halal, atau dimulutnya keluar kata-kata keharusan zuhud dan warak terhadap dunia, namun kenyataan hidupnya penuh galamor dan berfoya-foya.

 

FORKITA EvEnt’s

” Ikhwatifillah,.. perjuangan qt tak kan pernah berhenti, perjuangan qt akan terus berlanjut untuk mnegakkan agama Allah di muka bumi ini..

Tugas kita bukanlah untukberhasil, melainkan tugas kita untuk mencoba, karna di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil… “

Dalam rangka agenda rutin tahunan FORKITA-FTP-UB, mengadakan acara :

1. FONDASI I ( Forum Pengenalan Dasar Islam dan Organisasi I ), pada Tanggal 6-8 November 2009, tempatnya …

ehm…

pokoke seru rek.

2. KALEM ( Kajian Lembaga ), pada November 2009,

fasilitas acara – acara tersebut antara lain ;

-ILMU yang barakah,

-teman yang senantiasa istiqomah di jalanNYA.

-konsumsi yang mak nyus…

-pengalaman yang menjadi guru terbaik

-dll, pokoke gag da ruginya.

so, datang dan meriahkan acara – acara tersebut ya saudaraq…

Jazakallah khoiron katsiron

Jahannam Setelah 300 KM

Selang beberapa waktu, kami mendapatkan penunjuk jalan lain, mereka berkata: “Damman, 200 km”. Kukatakan: “Jahannam, 200 km”. Merekapun menertawakan aku dan menyebutku gila. Kukatakan: “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya aku melihatnya bertuliskan Jahannam, 200 km..”

Masih ingat di benak kita sebuah kisah memilukan di tempat yang dekat dengan tempat kita berpijak saat ini..?? Yup, kota Batu pada tanggal 15 April 2009 atau tengah malam menjelang Kamis dini hari 16 April 2009. Kejadian memilukan ketika sebuah mobil Taruna menabrak sebuah pohon di Jl. Panglima Sudirman. Sembilan orang penumpang mobil tewas. Tragisnya mereka adalah kumpulan pemuda-pemudi yang berasal dari beberapa perguruan tinggi di Malang.

(Sumber : Kantor Berita Antara, 16 April 2009)

Read more »

Sekaratnya Seorang Da’i

Seorang da’i tidak hanya sekarat di saat kematian akan menjemput sebagaimana manusia lainnya, akan tetapi dia akan sekarat pada perkara-perkara yang lain juga, dan tentu dalam setiap itu ada beberapa sebabnya. Maka ketika sebab ini datang, dia akan meradang saat datangnya sang maut.

Read more »

MUSLIMAH BACK TO ISLAM, yuks….!!!

Bulan Romadhon kian dekat sobat…saatnya berbenah, mempersiapkan diri dan memperbaiki diri. Yuks…kita mencontoh para pendahulu kita yang oke punya dalam menjalankan ketaatannya pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Seperti Siti Khadijah Rodiallohuanha, Siti Aisyah Rodiallohuanha ataupun para muslimah keren lainnya. Bisa nggak ya.. kita kayak mereka?? Atau masih adakah muslimah yang kayak mereka di bumi yang kian gak karuan tapi ngakunya modern??

Hmm…pertanyaan yang nggak mudah untuk dijawab. Kalo saya mau angkat tangan, kesannya kok narsis banget (hehehe..). Biar adil, saya akan menunjuk seseorang lain yang memenuhi kriteria di atas itu. Seorang perempuan, yang pasti muslimah dong, cerdas, berakhlak bagus dan cantik. Ia kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia, jurusannya pun terkenal sangat sulit ditembus oleh orang yang berotak pas-pasan.

Read more »

Ada Apa dengan Romadhon?????

Romadhon??? yang selalu teringat pada Bulan Romadhon adalah “puasa”.. karena puasa Romadhon adalah suatu kewajiban yang jelas dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Sholallahu ’Alaihi Wassalam. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. ” (Al-Baqarah:183)

…Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu (Romadhon), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” (Al-Baqoroh:185)

Read more »

perubahan content

afwan jiddan sebelumnya..untuk halaman immppg ana gabung dengan humas. Karena pertimbangan berbagai hal dan terutama untuk pengefektifan tulisan ataupun komentar. Syukron atas perhatiannya, Jazakumullah khoir..^_^..

Kaum Muda, Asa dan Perubahan

Tahun ini tepat 80 tahun kaum muda Indonesia merayakan peristiwa bersejarah mengenai kesadaran akan pentingnya berhimpun dalam satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa, yang bernama Indonesia. Kesadaran ini lahir sebagai antitesis politik Belanda yang memecah-belah sebuah bangsa besar yang hidup di Nusantara. Dengan mengikrarkan sumpah pemuda, sesungguhnya pemuda saat itu menunjukkan kapasitas dan kesiapannya untuk menjadi pemimpin bangsa.

Read more »